Ilmuwan dan Guru – Pedang Perak Chaminade

[ad_1]

Perjalanan Dr. Helen Turner dalam bidang sains dan pendidikan dibangun berdasarkan semangat, inspirasi, dan ketekunan. Dari kecintaannya pada biologi di sekolah menengah hingga peran kepemimpinan dan pengajarnya di Universitas Chaminade, kisahnya menunjukkan bagaimana tekad dan rasa ingin tahu dapat menciptakan komitmen seumur hidup untuk belajar dan menemukan.

“Saya pikir karier saya sangat luar biasa, sangat bervariasi dan saya benar-benar dapat mengatakan bahwa saya tidak pernah merasa bosan selama satu hari pun. Setiap hari membawa tantangan, kegembiraan, dan rahmat baru,” kata Turner, yang menggambarkan pekerjaan seumur hidup yang penuh dengan semangat dan tujuan.

Turner pertama kali menemukan kecintaannya pada sains di Seaford Head High School di Inggris. Dia terinspirasi oleh guru biologinya, Pak Matthew, yang membuatnya jatuh cinta pada mata pelajaran tersebut, dan guru kimianya, Pak Miller, yang mendorongnya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Tidak ada seorang pun di keluarganya yang pernah kuliah sebelumnya, jadi ini adalah langkah besar.

Suatu ketika dia kuliah di Universitas York di utara Inggris. Dia mendapatkan gelar PhD di Universitas London, dan dia adalah mahasiswa pasca doktoral. Dia menikmati laboratorium, kelas, dan pembelajaran langsung. Salah satu pengalaman mengesankan datang saat bekerja di laboratorium kimia atmosfer selama program penelitian sarjana di University of York. Saat kelompok labnya membuat penemuan menarik tentang deteksi pertama fullerene Karbon-60 di atmosfer menggunakan spektroskopi Raman. Dia menyaksikan para ilmuwan melompat-lompat, menangis kegirangan. Momen itu menunjukkan kepadanya betapa menariknya penemuan ilmiah dan membantunya menyadari bahwa ia ingin menjadikan sains sebagai kariernya.

Dr Helen Turner telah berada di Chaminade sejak 2007. (Foto milik Helen Turner)

Turner juga mengalami tantangan lain di luar bidang akademik. Ayahnya sangat mendukung pendidikan, namun ibunya ingin dia mengambil jalan lain, seperti menikah atau masuk biara. Secara keseluruhan, hal itu memotivasi tetapi menimbulkan jarak antara dia dan keluarganya. Dia juga harus menghadapi kesulitan keuangan dan tantangan menjadi mahasiswa generasi pertama. Di Inggris dia memenuhi syarat untuk mendapatkan biaya kuliah gratis, dan dia harus membuat pilihan sulit mengenai kebutuhan dasar. Ia sering merasa tidak pada tempatnya karena tidak memahami sisi sosial kehidupan kampus. Dia merasa seperti orang luar dan tidak begitu memahami sistem atau ekspektasinya. Namun, dia tetap fokus pada tujuannya dan terus meraih kesuksesan.

Turner belajar di institusi bergengsi seperti University of London dan Harvard Medical School. Dia menganggap Harvard menarik dan ramah, meskipun dia menggambarkan Harvard sebagai universitas yang sangat kompetitif dan politis. Hal ini juga membantu Turner memilih di mana dia ingin menghabiskan karirnya dengan preferensi terhadap institusi ramah berbasis nilai.

“Saya tidak menyukai bagaimana ilmu pengetahuan di sana sering berfokus pada kepribadian dan politik dibandingkan penemuan murni,” kata Turner, yang berharap ilmu pengetahuan lebih tentang penemuan dibandingkan persaingan.

Pengalaman ini menyadarkannya bahwa dia ingin melakukan pendekatan sains secara berbeda, lebih beretika, berkolaborasi, dan fokus pada pembelajaran dibandingkan kompetisi.

Pada tahun 2000, Turner pindah ke Hawaii untuk membantu mendirikan lembaga penelitian baru Queens Center untuk penelitian biotik di Universitas Hawaii dan Queen's Medical Center. Dia memilih pekerjaan itu sebagian karena peluangnya dan sebagian lagi karena gajinya lebih baik daripada beberapa pekerjaan yang ditawarkan kepadanya di Boston. Tujuh tahun kemudian, dia bergabung dengan Universitas Chaminade. Kepindahannya ke Chaminade pada tahun 2007 bukanlah sesuatu yang dia rencanakan, namun setelah bertemu dengan presiden, Sue Wesselkamper, dia merasa terinspirasi untuk mengambil posisi tersebut. Dia percaya bahwa di universitas yang lebih kecil, dia benar-benar bisa membuat perbedaan.

“Saya terinspirasi oleh Presiden Sue, dan tawaran pekerjaan itu terasa seperti sebuah inovasi. Saya sangat senang mereka menerimanya,” kata Turner, yang memuji peluang tersebut karena memotivasi dia untuk menghadapi tantangan baru.

Di Chaminade, Turner menemukan kegembiraan dalam mengajar dan membimbing. Dia belum pernah mengajar mahasiswa tingkat sarjana sebelumnya, namun dia segera menyadari betapa bermanfaatnya membimbing siswa di laboratorium. Semester musim gugur ini, dia mengajar BI 488 (Sihir, Sains dan Keyakinan online), dan dia juga mengajar dua mata kuliah ilmu data secara langsung dan penulisan ilmiah secara langsung dan imunologi untuk program biologi di semester sebelumnya. Selama bertahun-tahun, dia telah membimbing lebih dari 50 siswa, menghargai rasa ingin tahu dan ide-ide segar mereka. Ia juga menikmati kebebasan untuk mengeksplorasi topik penelitian baru tanpa tekanan dari institusi yang lebih besar.

Sepanjang karirnya, Turner telah menghadapi saat-saat merasa seperti orang luar, terutama sebagai wanita di bidang sains dan seseorang dari latar belakang kelas pekerja. Selama wawancara, Turner mengatakan bahwa dia masih tetap setia pada nilai-nilainya dan terus menginspirasi orang lain.

Saat dia menjelaskan bahwa “sains haruslah tentang penemuan, etika, dan pendidikan,” sebuah pesan yang terus dia pegang teguh di Universitas Chaminade.

[ad_2]

Ilmuwan dan Guru – Pedang Perak Chaminade

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *